******HIDUP ADALAH UNTUK IBADAH ********JADIKAN SELURUH AKTIVITAS HIDUPMU UNTUK MENCAPAI KEBAHAGIAAN DUNIA AKHIRAT *********JALAN YANG LURUS ***********yaitu jalan orang-orang yang telah Allah berikan nikmat, bukan jalan yang dimurkai Allah dan juga bukan jalan yang sesat.

Selasa, 01 Desember 2020

KISAH TUKANG KEBUN DAN PENJARING KUPU-KUPU




Ada dua orang teman, yang satu adalah tukang kebun dan yang satu berprofesi sebagai penjaring kupu-kupu.

Penjaring kupu-kupu berangkat setiap hari ke hutan dengan jaringnya untuk menangkap kupu-kupu. Ia mengejar ke sana-kemari untuk mendapatkan kupu-kupu.


Di akhir hari ia duduk beristirahat dan menghitung kupu-kupu hasil tangkapannya untuk dijual kepada kolektor.

Meskipun melelahkan, ia cukup senang dengan hasilnya itu yang bisa digunakan untuk menyambung hidup sehari-hari.

Sekali-sekali ia mampir ke kebun temannya si tukang kebun. Ia prihatin dengan kehidupan temannya itu. Tak seekor pun kupu-kupu ia peroleh dari pekerjaannya itu.

Tukang kebun ini begitu rajin dan telaten merawat kebunnya. Ia tanami dan rawat setiap jengkal tanah yang penuh dengan aneka tanaman dan bunga.


Ia belum mendapatkan apa-apa dari hasil usahanya itu. Berbeda dengan temannya penjaring kupu-kupu itu. Ia seorang yang sabar. Ia tetap melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kebunnya telah berubah menjadi taman bunga yang indah sekali. Satu per satu kupu-kupu hinggap di tanamannya. Hari demi hari makin banyak kupu-kupu yang berkeliaran di sana. Jumlahnya sampai ribuan.

Tukang kebun senang. Dengan mudah ia bisa menangkapi kupu-kupu. Dalam satu hari, hasil tangkapannya jauh lebih banyak dibandingkan dengan hasil tangkapan temannya selama berbulan-bulan.


Ia sangat senang. Sekarang ia dapat hidup dengan tenang dan sejahtera. Karena ingin punya banyak waktu dengan keluarga, ia pun mempekerjakan asisten untuk menangkap kupu-kupu dan merawat taman. Ia hanya sekali-sekali mengunjungi taman itu.

Ia juga punya rencana lain. Ia ingin membuat banyak taman serupa di berbagai tempat.


Meraih sesuatu yang baik tidak pernah mudah dan cepat.

sumber : https://iphincow.com/2020/09/12/kisah-tukang-kebun-dan-penjaring-kupu-kupu/


Minggu, 16 Agustus 2020

Bagaimana Seharusnya Sikap Muslim Menghadapi Wabah (covid-19)?



Wabah penyakit yang terus melanda Indonesia dan seluruh negara di dunia, tentu melahirkan sikap pesimistis dan keputusasaan. Tak sedikit orang yang lebih memilih mengakhiri hidupnya, dibandingkan terus terjerat dalam kesengsaraan selama pandemi. Dalam buku berjudul Memetik Hikmah di Tengah Wabah, karangan Ahmad Sarwat dijelaskan beberapa sikap yang dapat dilakukan umat Muslim dalam menghadapi wabah dan musibah. 


1. Berprasangka Baik Kepada Allah SWT 

Menanamkan prasangka baik kepada sang Pencipta mampu menciptakan pikiran-pikiran positif, sehingga risiko stres dapat berkurang. Dalam sebuah hadits Qudsi tertulis, “Aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku, karnanya hendaklah ia berprasangka semaunya kepada-Ku.”

“Berprasangka baik kepada Allah SWT itu sangat penting, karena Allah SWT sendiri yang menegaskan bahwa perlakuan-Nya kepada kita itu justru sangat bergantung dari apa yang kita sangkakan kepada- Nya. Kalau kita berprasangka buruk, maka kita pun akan mengalami keburukan. Sebaliknya, kalau kita berprasangka baik, tentu Allah SWT pun akan memberikan yang terbaik buat kita,” tulis Ahmad Sarwat. 

2. Optimis dan Berkata Baik Terus 

Bersikap optimistis dan menghadapi segala persoalan dengan pikiran dingin serta perkataan yang baik, juga mampu mengurangi segala keresahan selama pendemi. Hal ini sejalan dengan apa yang disabdakan Rasulullah dalam hadits dari Anas bin Malik RA. “Tidaklah penyakit menular tanpa izin Allah dan tidak ada pengaruh dikarenakan seekor burung, tetapi yang mengagumkanku ialah al-Fa'lu (optimisme), yaitu kalimah hasanah atau kalimat thayyibah (kata-kata yang baik),” HR. Bukhari Muslim).

Pengaruh semangat optimis juga telah dibahas oleh para ahli medis, dinyatakan bahwa salah satu faktor yang memicu penyembuhan para pasien korban covid-19 adalah mentalitas yang optimis. Selain itu Rasulullah SAW juga melarang umatnya untuk berbicara hal yang tidak baik. Rasulullah bahkan menyarankan untuk diam dibandingkan berbicara keburukan. “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Bukhari Muslim) 

3. Kewajiban Menghindari Wabah 

Segala macam penyakit dan bahaya sudah selayaknya dihindari. Perintah ini juga diungkapkan Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya, “Dan larilah dari penyakit lepra sebagaimana engkau lari dari kejaran singa.” (HR. Bukhari) Usamah bin Zaid RA meriwayatkan sabda Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa datangnya suatu wabah adalah sebagai peringatan Allah SWT untik menguji manusia.

Dalam riwayat yang sama, Rasulullah SAW juga memerintahkan untuk menjauhi suatu negeri yang terdampak wabah, begitu pula sebaliknya. Rasulullah bersabda, “Tha'un (penyakit menular/wabah kolera) adalah suatu peringatan dari Allah SWT untuk menguji hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu menjangkit suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya." (HR. Bukhari Muslim) 

4. Tidak Membahayakan Orang Lain 

Selain tidak boleh membahayakan diri sendiri, Rasulullah SAW juga mewajibkan umatnya menghindari segala hal yang dapat membahayakan orang lain. Nabi SAW bersabda dalam hadits riwayat Abu Said al-Khudri RA, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain.” (HR. Malik, Daruquthni, Hakim dan Baihaqi)

Dalam bukunya, Ahmad Sarwat menjelaskan, larangan berkumpul serta penerapan jarak sosial merupakan ikhtiar pemerintah untuk menghindari penyebaran virus. Dengan melaksanakan segala protokol kesehatan yang telah ditetapkan, bukan hanya dapat menyelamatkan diri sendiri dari risiko terjangkit virus, namun juga menyelamatkan orang lain. 

5. Wajib Mengupayakan Pengobatan Syariah 

Islam telah memerintahkan kepada umat Muslim untuk selalu mengupayakan kesembuhan. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila ditemukan obat yang tepat untuk suatu penyakit, maka akan sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah SWT.” (HR. Muslim) “Jadi penyakit itu harus diupayakan obatnya dan bukan hanya didiamkan saja. Benar bahwa tubuh kita punya zat antibodi yang bisa melawan penyakit. Namun bukan berarti kita tidak perlu berobat,” tulisnya.



Kisah Inspiratif : Nurul Cari Ayah Lewat Medsos, Bertemu Usai 16 Tahun Hilang Kontak

 Kisah Nurul Cari Ayah Lewat Medsos, Bertemu Usai 16 Tahun Hilang Kontak 


Foto: Kisah gadis Aceh cari ayah 16 tahun akhirnya bertemu lewat medsos (dok. Istimewa)


Perjuangan berliku Nurul Happy Zalindra mencari sang ayah yang hilang kontak sejak 16 tahun lalu akhirnya membuahkan hasil. Gadis asal Aceh ini tak menyangka baru dapat melihat wajah sang ayah di usia 19 tahun.Nurul mengatakan perjuangan mencari ayahnya, Rahim Said (52), yang menetap di Malaysia dimulai sejak tiga tahun lalu. Kala itu, Nurul mencoba mencari nama sang ayah di media sosial.Setahun berselancar di media sosial, orang yang dicari Nurul tidak kunjung ketemu. Gadis yang kini menetap di Lhokseumawe, Aceh ini lalu mengunggah foto sang ayah di akun media sosialnya pada akhir 2018.Cara kedua juga tidak membantu Nurul. 

Ketika usianya beranjak 19 tahun, Nurul memberanikan diri mengirim pesan ke akun-akun Instagram milik warga Malaysia."Saya meng-DM (Direct Message) semua orang Malaysia waktu itu. Alhamdulillah kak Lyana yang tergerak hati untuk respons baik mau tolong saya," kata Nurul, Senin (13/7/2020).Nur Lyana Aqilah yang dihubungi Nurul adalah mahasiswi Universiti Islam Antarbangsa Malaysia. Dia tinggal di daerah Kulim, Kedah dan ternyata masih satu daerah dengan tempat tinggal ayahnya Nurul.Foto: Kisah gadis Aceh cari ayah 16 tahun akhirnya bertemu lewat medsos (dok. Istimewa)Keduanya mulai berkomunikasi pada Senin 6 Juli sekitar pukul 11.00 siang. Empat jam berselang, Nurul mendapat pesan dari Lyana yang dikirim lewat DM Instagram."Kakak Lyana kirim pesan jam 3 siang katanya abah (ayah) dah jumpa," jelas mahasiswi STIKES Bumi Persada Lhokseumawe ini.Nurul masih tak menyangka bakal kembali bertemu dengan sang ayah.

Setelah mendapat nomor sang ayah, dia menghubunginya lewat video call.Ayah dan anak yang terpisah belasan tahun itu saling melepas kerinduan. Sejak saat itu, Nurul, ibunya Suryati dan sang ayah mulai aktif berkomunikasi lagi."Alhamdulillah dari pas bisa berkabar keluarga di sini (Aceh) dengan keluarga sana (Malaysia) berkomunikasi terus," ujarnya.Nurul mengungkapkan, 'perpisahan' sang ayah dengan ibunya dimulai pada tahun 2000 silam. Ketika itu, sang ibu yang sedang mengandung Nurul empat bulan pulang ke Aceh karena acara keluarga.Sang ayah tidak ikut. Tapi keduanya masih sering berkomunikasi lewat surat karena tidak memiliki telepon. 

Empat tahun berselang, gempa dan tsunami melanda Aceh pada Desember 2004.Rahim kembali mengirim surat untuk menanyakan kabar keluarganya di Aceh. Tapi surat itu ditolak dengan alasan Nurul dan ibunya sudah meninggal akibat bencana tsunami."Dari situ lah abah kami hilang kontak dengan kami. Ibu pun kirim surat tapi tak pernah sampai ke sana dan ada orang yang bilang abah sudah tiada (meninggal)," jelas Nurul.Nurul mengaku dirinya ingin segera ke Malaysia untuk bertemu langsung dengan ayahnya. 

Dia baru pertama sekali melihat wajah sang ayah pada Senin lalu."Sebelumnya belum pernah lihat. Alhamdulillah senang masih nggak nyangka juga tapi bersyukur kali," katanya."Kalau ada rezeki, setelah habis Corona mau ke Malaysia, mau ketemu langsung dengan abah," jelas Nurul.


https://news.detik.com/berita/d-5090982/kisah-nurul-cari-ayah-lewat-medsos-bertemu-usai-16-tahun-hilang-kontak/2