******HIDUP ADALAH UNTUK IBADAH ********JADIKAN SELURUH AKTIVITAS HIDUPMU UNTUK MENCAPAI KEBAHAGIAAN DUNIA AKHIRAT *********JALAN YANG LURUS ***********yaitu jalan orang-orang yang telah Allah berikan nikmat, bukan jalan yang dimurkai Allah dan juga bukan jalan yang sesat.

Minggu, 25 Desember 2022

Hikmah Syiar Islam di Piala Dunia Qatar


Aktor AS Morgan Freeman (kiri) duduk di atas panggung di sebelah Duta Besar Piala Dunia FIFA Ghanim Al Muftah, pada upacara pembukaan sebelum Piala Dunia, pertandingan sepak bola grup A antara Qatar dan Ekuador di Stadion Al Bayt di Al Khor, Ahad, 20 November 2022.
Foto: AP/Natacha Pisarenko
Qatar mengenalkan ajaran Islam di Piala Dunia

Pada pageleran Piala Dunia 2022 ini, Qatar selaku tuan rumah menyiarkan dan mengenalkan sebagian ajaran Islam kepada dunia. Sikap Qatar ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menyeru pada hal-hal baik pada manusia.

Pada pembukaan piala dunia 2022 di Stadion Al Bayt, Al Khor, Qatar, Ahad (20/1/2022) malam WIB, diwarnai penampilan yang berbeda dibandingkan ajang tahun-tahun sebelumnya. Aktor senior Hollywod, Morgan Freeman tampil di upacara pembukaan Piala Dunia 2022.

Freeman berdialog dengan hafiz penyandang disabilitas bernama Ghanim Al Muftah, yang mendadak muncul. Ghanim adalah duta resmi Piala Dunia 2022 di Qatar.

Ghanim pun sempat menyinggung tentang persatuan dan keberagaman. Setelah itu, ia mengutip Surat Al Hujurat ayat 13. Isi surat tersebut artinya, "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal."

Pembacaan ayat ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan pentingnya toleransi di antara sesama manusia. Tidak ada ras manusia yang lebih unggul satu dari yang lainnya. Selain itu, penampilan Morgan Freman yang bertubuh sempurna dan Ghanim yang disabilitas, menegaskan bahwa Islam mengajarkan bahwa Allah memandang semua manusia adalah sama, yang membedakan adalah akhlaknya.

Syiar Islam lainnya yang ditunjukkan Qatar adalah kode QR baru ditambahkan di kamar tamu hotel yang memperkenalkan pengunjung kepada Islam dan budaya Qatar dalam semua bahasa. Ini menunjukkan bahwa Islam bukan ajaran ekslusif yang diperuntukkan bagi umatnya yang terlahir dari orang tua yang Muslim saja, tetapi Islam juga bisa dipelajari dan diketahui oleh non-Muslim.

Beberapa bulan lalu juga, Qatar menempatkan beberapa mural di seluruh negeri dengan hadits Nabi Muhammad SAW untuk memperkenalkan Islam kepada para penggemar Piala Dunia yang akan datang. Salah satu hadits tersebut berbunyi:

“Setiap kebaikan adalah sedekah. Barang siapa yang tidak menyayangi orang lain, tidak akan disayang. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun dengan sedekah setengah kurma,”

“Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”

Hadits-hadits ini dipasang agar masyarakat dunia tahu bahwa Islam mengajarkan pentingnya saling berbagi, mengutamakan nilai kepedulian, kasih dan sayang, dan perdamaian. Ini penting untuk memberi tahu kepada masyarakat dunia bahwa pandangan bahwa Islam mengajarkan terorisme, radikalisme, adalah keliru.

Di Piala Dunia ini, Qatar selaku tuan tumah juga melarang seks bebas dan konsumsi alkohol. Ini menunjukan kepada masyarakat dunia, bahwa Islam adalah ajaran yang mengajarkan tentang kesehatan dan kebersihan.

Seperti diketahui, minuman beralkohol diketahui memeiliki dampak buruk bagi kesehatan, apalagi sampai memabukkan. Sementara, seks bebas juga berdampak pada penularan penyakit berbahaya dan mematikan seperti HIV/AIDS.

Qatar juga tetap menggunakan pengeras suara di stadion untuk adzan. Ini bisa mengenalkan kepada masyarakat dunia, bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan tentang menghargai waktu, khususnya untuk beribadah.

Selain itu, di stadion-stadion Qatar, disediakan ruangan khusus untuk sholat.

Dengan langkah-langkah Qatar mengenalkan Islam, Masyarakat dunia akan mengetahui bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan tentang perdamaian, kemanusiaan, kasih sayang, kedisiplinan. Sehingga, pandangan-pandangan sempit masyarakat yang terjangkit virus Islamofobia diharapkan bisa luntur dengan syiar-syiar Islam di Piala Dunia ini.


sumber : https://www.republika.co.id/berita/rltc0e318/hikmah-syiar-islam-di-piala-dunia-qatar



KISAH ini datangnya dari seorang sahabat. Sang sahabat tersebut merasa bersyukur setelah
bertemu sang pengemis ini.
Sang sahabat yang bernama Budiman menceritakan awal kisahnya bertemu dengan sang
pengemis yang membuat 'tamparan' pada hatinya hingga tersadar dan akhirnya bersyukur kepada
Allah f.
Dikutip melalui laman kabarmakkah, Budiman yang menceritkan kisahnya itu, berawal pada
suatu sore ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja untuk kebutuhan rumah tangga
bulanan di toko swalayan.
Usai membayar, mereka pun membawa sejumlah tas plastik belanjaan.
Baru saja keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat
itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, “Beri
kami sedekah, Bu!”
Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu menyodorkan selembar uang kertas
berjumlah Rp 1000.
Wanita pengemis itu menerimanya. Namun, ketika tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan,
wanita pengemis itu lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya.
Kemudian wanita pengemis itu memegang kepala anaknya dan sembari menguncupkan jari-
jarinya mengarah ke mulut, seolah wanita pengemis ingin berkata, “Aku dan anakku ini sudah
berhari-hari tidak makan, tolong beri kami tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!”
Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak
tangannya seolah berkata, “Tidak… tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!”
Selanjutnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk
membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna
mencek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mencek
saldo rekeningnya.
Di depan ATM, Budiman memasukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol
'informasi saldo', kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman tersenyum.
Ternyata uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.
Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu
berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah
juga, namun kali ini bernilai 10 ribu rupiah yang ia tarik dari dompet. Uang itu Kemudian dia
lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadinya meminta tambahan sedekah.
Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun
berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat
penuh kesungguhan: “Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah… Terima kasih tuan!

Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi
kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah,
mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah.
Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga…”
Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman
mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang
diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu.
Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, “Nak,
Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga….!”
Mendegar ucapan sang wanita pengemis tersebut, hati Budiman tergedor dengan begitu kencang.
Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan.
Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari
menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.
Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan
keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun
mengetahui itu. “Ada apa Pak?” Istrinya bertanya.
Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan: “Aku baru saja menambahkan
sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!”
Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman mengatakan bahwa ia memberi
tambahan sedekah kepada wanita pengemis. Namun Budiman kemudian melanjutkan
kalimatnya:
“Bu…, aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah
berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan
dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa!
“Dia hanya menerima karunia dari Allah f, sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya
bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mencek saldo dan ternyata di sana
ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo
itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap
hamdalah.
“Bu…, aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah
dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam
surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang
menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah.”
Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata
yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur
sebagai hamba.[fm]

Sumber : Majalah Sedekah Plus Edisi 66
https://wiz.or.id/kisah-pertemuan-budiman-dengan-pengemis-yang-bikin-trenyuh-dan-haru/

Kisah Mengharukan: Seorang Pengemis Nabung Selama 2 Tahun Untuk Membelikan Baju Anak




Setiap orang tua tentunya selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Hanya saja apa daya, himpitan ekonomi terkadang membuat orang tua menunda memberikan apa yang anaknya inginkan. Namun meskipun begitu orang tua tetap akan memberikan yang anaknya inginkan walaupun harus berusaha dengan keras seperti kisah ayah yang satu ini. Ayah ini diketahui seorang pengemis, demi membelikan baju baru untuk anaknya ia harus menabung selama 2 tahun. Kisahnya begitu menyentuh hati dan membuat haru.

Diusir Oleh Penjaga Toko

Tepatnya dua tahun yang lalu, seorang ayah yang diketahui bernama Kawsar Hossain belum mampu memenuhi keinginan putrinya untuk membelikan baju baru. Saat itu, ia belum mampu membelikan baju yang diinginkan putrinya tersebut. Bahkan hanya melihat-lihat saja ia sempat diusir oleh seorang penjaga toko.

Hossain memang seorang pengemis. Namun, itu bukanlah keinginan dirinya. 10 tahun yang lalu diketahui ia mengalami kecelakaan yang menjadikan dirinya cacat. Bus yang ia tumpangi jatuh ke dalam jurang, namun beruntung ia selamat. Hanya saja, saat itu ia harus merelakan tangannya diamputasi dan membuat dirinya menjadi cacat.

Putri Hossain bernama Sumaiya. Putrinya tersebut menyukai baju yang terpajang di sebuah toko. Baju tersebut harganya sekitar 50 ribuan. Hanya saja, keadaan ekonominya yang buruk saat itu membuat ia tidak bisa membelikan baju yang putrinya sukai tersebut. Bahkan karena penampilan yang tidak meyakinkan, petugas toko malah mengusirnya ke luar.

Melihat sang ayah diusir, membuat putrinya menangis yang kala itu sedang bersamanya. Sang putri kemudian mengajak ayahnya pulang. Gadis kecil yang tidak tahu apa-apa itu merasa terharu ketika ayahnya diperlakukan buruk oleh petugas toko. Ketika itu, Sumaiya mengatakan pada sang ayah bahwa ia tidak lagi menginginkan baju baru.
Hossain Merasa Iba dan Tersentuh

Ketika melihat putrinya menangis, Hossain merasa sangat tersentuh dan iba. Tangisan putrinya tersebut menjadikan ia semangat untuk membelikan baju baru kepada putrinya. Dari hari ke hari ia menabung sedikit demi sedikit. Uang hasil mengemis yang tidak terlalu banyak pasti ia sisihkan sedikit untuk membelikan baju keinginan putrinya. Dan setelah menabung selama dua tahun, akhirnya Hossain bisa membelikan baju untuk putrinya . Ia kembali ke toko tempat dimana ia dulu diusir dan membeli baju yang putrinya inginkan.

Melihat sang ayah membelikan baju yang ia inginkan, Sumaiya merasa senang dan berterima kasih pada sang ayah. Selain membelikan baju baru, Hossain juga mengajak putrinya jalan-jalan. Bahkan tanpa sepengetahuan sang istri, pria tersebut meminjam ponsel tetangga untuk memotret putrinya.

Saat mengemis, anak-anak Hossain selalu memperhatikan dirinya dari jauh. Hossain sebenarnya merasa sangat malu jika anak-anaknya mengetahui bahwa dirinya meminta-minta pada orang lain. Hanya saja, anak-anaknya selalu mengingatkan bahwa ia tak boleh malu. Tidak apa-apa melihat sang ayah menjadi seorang pengemis yang terpenting ayahnya tersebut baik-baik saja. Anak-anak Hossain sangat menyayangi ayahnya. Mereka bahkan sangat takut jika ayahnya kecelakaan lagi dan meninggalkan mereka.

Itulah bukti kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. Kasih orang tua sepanjang masa, cintanya begitu sempurna bahkan tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Ia rela melakukan apapun untuk membuat anaknya bahagia karena baginya kebahagiaan anak adalah hal yang paling penting. Senyum sang anak adalah kebahagiaan untuk setiap orang tua.


sumber : https://bisikan.com/kisah-mengharukan-seorang-pengemis-nabung-selama-2-tahun-untuk-membelikan-baju-anak

Inilah Kisah Mengharukan Rasulullah dengan Seorang Pengemis

Di sebuah sudut jalan ada seorang pengemis buta yang setiap harinya selalu mengumpat Rasulullah SAW. Ia berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad. Dia itu orang gila, pembohong, tukang sihir. Apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya!”

Tiada hal lain yang dilakukan si buta setiap hari, kecuali menengadahkan tangan dan mengumpat meneriakkan kata-kata itu berulang kali.

Namun demikian, setiap hari di waktu pagi selalu ada seorang pria yang mendatangi pengemis itu dengan membawakannya makanan.

Dan, tanpa berucap sepatah kata pun, pria itu selalu menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis buta itu.

Suatu ketika, pria yang biasanya datang memberinya makan tidak lagi datang kepadanya. Pengemis buta itu semakin hari semakin lapar dan bertanya-tanya dalam dirinya apa yang terjadi terhadap pria itu.

Sampai suatu pagi ada seorang pria yang mendatanginya dan memberinya makan.

Namun, ketika pria itu mulai menyuapinya, si pengemis buta itu marah sambil menghardik, “Siapakah kamu? Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku!”

“Aku adalah orang yang biasa,” ujar pria itu.

“Tidak mungkin. Engkau bohong!” kata si pengemis buta itu.

“Sebab, apabila dia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah,” jawab pengemis buta itu lagi.

Mendengar jawaban si pengemis buta itu, pria tadi tidak dapat menahan air matanya. Dia menangis sambil berkata kepada pengemis itu.

“Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Namaku Abu Bakar. Orang mulia yang biasa memberimu makan itu telah meninggal dunia. Dia adalah Muhammad SAW.”

Pengemis buta itu terkejut. Tubuhnya bergetar. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Hanya air mata yang mengalir di pipinya.

Deras, seolah tak terbendung, mengenang “Manusia Mulia” yang selalu dimakinya setiap hari. Subhanallah, sungguh keikhlasan dan kesabaran Rasulullah tiada tara.***


sumber : https://gresiktoday.pikiran-rakyat.com/khazanah/pr-2454155724/inilah-kisah-mengharukan-rasulullah-dengan-seorang-pengemis?page=2

Kisah Mengharukan, 10 Tahun Membenci Suami, Tak Disangka Begini Wanita Ini Setelah Ditinggal Pergi

Kisah mengharu biru tentang cinta dan kehidupan rumah tangga suami istri ini bisa menjadi pelajaran bagi pasangan suami istri lainnya agar dapat lebih bersyukur dengan apa yang telah mereka miliki saat ini.
Kisah ini sudah cukup lama viral di dunia maya, baik di Facebook, blog, maupun di berbagai forum.
Tidak diketahui apakah cerita ini adalah kisah nyata atau hanya fiktif dan siapa yang menulisnya.

Selamat membaca....
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami.
Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya.
Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku.

Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri.
Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain.
Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun.
Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja.

Kulakukan segala hal sesuka hatiku.Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa.Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri.Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku.
Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya.Tak ada seorangpun yang berani melawan.Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku.
Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, dan aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku.Aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi.Aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak.Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya

Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit.
Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi.
Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang kedelapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir.
Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah.
Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku.
Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu.
Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut.
Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya.
Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku.
Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai.

Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah.

Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas.

Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.


“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku,” katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara.

Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak.

“Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada di mana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali.

Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon.
Iklan untuk Anda: Jika Tanda Parah Diabetes Ini Mulai Muncul di
Advertisement by


Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku.

Si empunya salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi.

Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku.

Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya.

Aku mulai merasa tidak enak dan marah. Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba.

Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku.

Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak Armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.

Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian.

Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung.

Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku.

Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku.

Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu.

Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.

Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock.

Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku.

Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu.

Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama.

Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami.

Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.

Air mata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku.

Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja.

Tapi bukannya berhenti, air mataku semakin deras membanjiri kedua pipiku.

Peringatan dari imam masjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis.

Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya.

Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan.

Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan.

Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai.

Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental.

Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya.

Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja.

Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah.

Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun.

Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku.

Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya.

Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan.

Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu.

Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang.

Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku.

Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali.

Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa.

Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana.

Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnya pun tidak mau kuhapus.

Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote.

Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada.

Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu.

Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku.

Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas.

Aku shalat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna.

Shalatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak.

Teman-temanku yang selama ini kubela-bela, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi.

Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja.

Semua dilakukan suamiku.

Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa.

Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya.

Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini.

Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga.

Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.

Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga.

Tapi bekerja di mana?

Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris.

Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat.

Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang.

Maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri.

Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi.

Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya.

Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja.

Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti.

Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi.

Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak.

Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja.

Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini.

Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini.

Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku.

Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu

Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku.

Jagalah Ibu dan Farah.

Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya.

Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya.

Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajeri oleh orang-orang kepercayaannya.

Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku.

Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku.

Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang.

Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “Seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “Bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku.

Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya.

Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.(***)



sumber : https://bali.tribunnews.com/2017/05/13/kisah-mengharukan-10-tahun-membenci-suami-tak-disangka-begini-wanita-ini-setelah-ditinggal-pergi


.